Ketabahan Bapak Tua Penjual Amplop



Memiliki penghasilan tetap serta kedudukan yang layak mungkin tak dirasakan sebagian orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang kurang tinggi. Ini bisa terlihat dari sosok pria paruh baya duduk di salah satu sudut Masjid Salman ITB, Bandung.
Di antara pedagang lainnya yang memiliki modal lebih besar menjual memilih pakaian, makanan atau elektronik. Namun, pria paruh baya itu rupanya tengah menjajakan barang dagangannya yakni amplop.
Ketika sebagian penjual ramai dikunjungi pembeli, ia hanya bisa meratapi karena tak satu pun dari orang-orang yang lewat menengok barang dagangannya. Sampai suatu saat seorang pemuda menghampiri pria itu bermaksud ingin membeli beberapa amplop.

Kaget bukan kepalang saat ditanya berapa harga amplop yang dijualnya. "10 amplop saya jual seharga Rp 1.000", kata pria itu. Kenapa semurah itu, ia lantas menunjukan kwitansi pembelian amplop yang seharga Rp 7.500, berarti ia hanya mengambil untung Rp 250 saja.
Bagi Anda berpenghasilan lebih, uang sekecil itu tentu tidak ada artinya. Namun uang Rp 1.000 ternyata begitu penting bagi pria itu. Demi membeli satu bungkus nasi saja ia harus menjual puluhan bungkus amplop.
Kisah-kisah menarik banyak terjadi di sekitar kita. Dari kejujuran bocah penjual tisue di Setiabudi, Jakarta Selatan, mualaf yang dilempar kepala babi, sampai 'kesuksesan' haji nunut.

sumber berita: dream.co.id

0 Response to "Ketabahan Bapak Tua Penjual Amplop"

Posting Komentar

close